REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Amerika Serikat kembali membela kemitraan pertahanan AUKUS di tengah meningkatnya persaingan strategis dan kekhawatiran mengenai proliferasi nuklir di Indo-Pasifik. Duta Besar Amerika Serikat untuk ASEAN Kevin Kim menegaskan, kerja sama Washington, Canberra, dan London itu dirancang untuk memperkuat kemampuan pertahanan Australia sekaligus menjaga stabilitas kawasan.
“Kapabilitas ini ditujukan untuk melindungi kedaulatan Australia sehingga mereka dapat melindungi perairannya,” kata Kim dalam diskusi terbatas bersama media di Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Kim mengatakan dirinya sangat mendukung AUKUS. Sebelum menjadi duta besar, ia pernah menjadi anggota staf profesional Komite Angkatan Bersenjata Senat Amerika Serikat dan terlibat dalam penyusunan regulasi awal yang memungkinkan implementasi kemitraan tersebut.
Ia menambahkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga memberikan dukungan terhadap AUKUS. Dukungan Trump sebelumnya ditegaskan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth saat bertemu Menteri Pertahanan Australia Richard Marles di Pentagon pada Februari 2025. Hegseth menyatakan Trump memahami pentingnya AUKUS, termasuk bagi penguatan industri pertahanan dan pembagian beban keamanan dengan sekutu di Indo-Pasifik.
“Pada dasarnya, kemitraan ini bertujuan memperdalam kerja sama berbasis industri pertahanan,” ujar Kim.
Bertenaga Nuklir, Bukan Bersenjata Nuklir
AUKUS dibentuk Amerika Serikat, Inggris, dan Australia pada September 2021. Kemitraan tersebut memiliki dua jalur kerja utama yang disebut sebagai Pilar I dan Pilar II.
Pilar I berfokus membantu Australia memperoleh kapal selam bertenaga nuklir tetapi bersenjata konvensional. Pembedaan tersebut penting karena kapal selam AUKUS tidak dirancang membawa senjata nuklir. Tenaga nuklir digunakan sebagai sistem penggerak yang memungkinkan kapal menyelam lebih lama, bergerak lebih cepat, dan beroperasi dalam jarak lebih jauh dibandingkan kapal selam diesel-elektrik.
Dalam rencana yang masih berlaku, Australia akan mulai memiliki dan mengoperasikan kapal selam kelas Virginia buatan Amerika Serikat pada awal dekade 2030-an. Australia dan Inggris kemudian akan membangun kapal selam generasi baru SSN-AUKUS, dengan kapal pertama buatan Australia ditargetkan hadir pada dekade 2040-an.
Mulai 2027, Amerika Serikat dan Inggris juga direncanakan menempatkan kapal selam secara bergiliran di HMAS Stirling, Australia Barat, melalui skema Submarine Rotational Force-West. Pemerintah Australia dan Inggris pada Juni 2026 menyatakan persiapan penempatan tersebut telah berada di jalur yang direncanakan.
Sementara itu, Pilar II mencakup pengembangan teknologi pertahanan mutakhir, antara lain kecerdasan buatan, sistem otonom, kendaraan laut nirawak, peperangan elektronik, teknologi kuantum, kemampuan siber, serta senjata hipersonik.
sumber : Antara
.png)
6 hours ago
4

















































