REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Ketua Dewan Pembina Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) HM Arum Sabil menyatakan dukungannya terhadap kebijakan pemerintah yang mewajibkan seluruh pabrik gula rafinasi membangun kebun tebu sendiri. Langkah ini dinilai krusial untuk memperkuat pasokan bahan baku dan mempercepat target swasembada gula nasional.
"Pabrik gula rafinasi harus menjadi bagian utuh dari mata rantai pergulaan nasional dengan ikut membangun kebun tebu, memperluas kemitraan bersama petani, meningkatkan produktivitas, sekaligus memperkuat fondasi swasembada gula Indonesia," kata Arum dalam keterangan di Jakarta, Kamis.
Arum menekankan bahwa penguatan sektor pergulaan harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan seluruh pelaku industri. Ia memandang Pabrik Gula Kristal Putih (GKP) dan Pabrik Gula Rafinasi (GKR) sebagai dua pilar penting yang harus saling memperkuat dalam membangun industri gula nasional.
Proyeksi Positif Produksi Gula 2026
Kinerja sektor pergulaan nasional menunjukkan tren yang semakin positif. Pada 2026, luas areal tebu nasional diproyeksikan meningkat dari 563 ribu hektare menjadi 576.537,70 hektare.
Produktivitas juga naik dari 69,35 ton per hektare menjadi 70,87 ton per hektare, sementara rendemen meningkat dari 6,83 persen menjadi 7,45 persen. Peningkatan ini mendorong proyeksi produksi Gula Kristal Putih (GKP) nasional mencapai sekitar 3,044 juta ton pada 2026, naik dari produksi tahun sebelumnya sebesar 2,67 juta ton.
Jumlah tersebut diperkirakan telah melampaui kebutuhan gula konsumsi rumah tangga nasional yang berada di kisaran 2,9 juta ton. Meski demikian, kebutuhan gula untuk industri makanan dan minuman masih berkisar 3,8–3,9 juta ton per tahun, sehingga pemerintah terus mendorong penguatan hilirisasi industri gula.
Investasi Hulu dan Kemitraan Petani
Arum mengusulkan agar pabrik gula rafinasi tidak hanya berperan mengolah gula mentah impor untuk kebutuhan industri, tetapi juga berinvestasi di sektor hulu. Investasi ini dapat dilakukan melalui pembangunan kebun tebu dan kemitraan dengan petani.
Sejalan dengan penguatan industri gula nasional, Kementerian Pertanian terus mempercepat berbagai program strategis. Program tersebut meliputi peremajaan kebun tebu, peningkatan produktivitas melalui penggunaan benih unggul, mekanisasi budidaya, penyediaan pupuk, pembangunan infrastruktur pendukung, serta revitalisasi pabrik gula.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pihaknya terus memperkuat industri gula nasional melalui peningkatan produksi tebu dan penguatan keterpaduan sektor hulu hingga hilir. "Produksi tebu harus kita tingkatkan, produktivitas diperkuat, dan hilirisasi harus berjalan agar nilai tambah dinikmati petani serta industri nasional. Swasembada gula hanya bisa dicapai jika sektor hulu dan hilir bergerak bersama," ujar Amran.
Mentan menegaskan bahwa penguatan sektor hulu menjadi kunci bagi keberlanjutan industri gula nasional. Setiap pabrik gula perlu didukung ketersediaan bahan baku yang memadai agar mampu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani tebu.
"Kalau hulunya kuat, hilirnya kuat, maka industri gula nasional akan kuat. Tujuan akhirnya bukan hanya swasembada gula, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani tebu dan memperkuat ekonomi nasional melalui hilirisasi," kata Amran. Melalui sinergi pemerintah, petani, BUMN, dan pelaku industri, Kementerian Pertanian optimistis swasembada gula dapat diwujudkan.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara
.png)
2 hours ago
2

















































